“Aachen adalah cinta pada pandangan pertama.” Tulis brosur pariwisata kota Aachen. Di kota itulah pada tahun 1880, Friedrich Robert Helmert, profesor bidang Geodesi Universitas Teknologi Rhein Westfalen Aachen (atau lebih dikenal RWTH Aachen), mempublikasikan Die mathematischen und physikalischen Theorieen der höheren Geodäsie. Dalam publikasinya itu, Helmert mendefinisikan geodesi: is the science of the measurement and mapping of the earth’s surface.

 

J ika kita tengok sejarah, pengukuran bumi sudah dilakukan sejak Yunani Kuno. Di atas sebuah sumur di Aswan, 220 tahun sebelum masehi, Eratosthenes memulai pengukuran radius bumi. Konon untuk mendapat data sudut, ia mengukur panjang bayang-bayang dari sebuah menara di Aleksandria yang terletak kira-kira di utara Aswan. Jarak Iskandaria-Aswan diketahui 5000 stadia. Hasilnya, ukuran Eratosthenes 15,5% lebih panjang dari hasil perhitungan modern.

n.

Awal abad 10 Masehi, Rayhan Al Biruni mengembangkan cara yang lebih efektif: trigonometri. Hasil yang ia dapat hanya meleset 16.8 km dari yang dihasilkan teknologi saat ini. Motif penelitian Al Biruni tampaknya alasan ruhiyah, mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan mengenali ciptaan-Nya. Tapi nasib berkata lain pada Galileo Galilei. Teorinya tentang heliosentris dianggap merusak iman--tepatnya keyakinan Gereja. Waktu itu menentang Gereja sama halnya menentang Tuhan. Kita pun tahu nasib Galileo: meninggal sebagai tahanan rumah.

Maka output pengukuran wilayah adalah pemetaan. Tapi peta analog rasanya sudah terlalu kuno bagi zaman yang serba digital seperti sekarang ini. Data spasial pun tidak bisa lagi dimonopoli pengukuran terestris, bisa dilakukan dengan wahana foto udara atau citra. Jika digabungkan dengan atribut spasial lainnya, lahir disiplin ilmu yang lebih modern: Geomatika.

Karena itu, agaknya penamaan Geomatika sudah pas ketimbang Geoinformatika. Secara komersil, nama Geoinformatika nampak lebih menjual. Tapi ilmu pengetahuan tidak melulu soal uang. Ilmu pengetahuan dipergunakan untuk menaikkan level peradaban. Justru ketika uang dituhankan, ia merusak peradaban.

Mungkin sebuah kekeliruan menyebut Geodesi sama dengan Geomatika. Barangkali sama kelirunya kita menyebut theodolit sama dengan total station. Theodolit bisa melakukan pengukuran sudut tapi tidak bisa mengukur jarak secara langsung. Total Station dapat melakukannya sekaligus. Lagipula kita—setidaknya saya--lebih menyukai menyukai surveying (‘penjelajahan’) ketimbang coding (pemograman).

Pendidikan Geodesi di Indonesia berumur 65 tahun. Dimulai pada tahun 1950, tahun berdirinya Jurusan Geodesi dan Geomatika pertama di De Techniche Hoogeschool te Bandung (kini: ITB). Selama 65 tahun itu pula  Geodesi telah mendampingi pambangunan dan penataan ruang bangsa.

Maksud Helmert tentang “the earth’s surface”, tentu pengukuran dan pemetaan permukaan bumi, termasuk didalamnya permukaan dasar laut. Dengan luasnya wilayah zamrud khatulistiwa, dari sabang sampai merauke, menyisakan banyak pekerjaan rumah: pemetaan darat dan memetakan laut. Pekerjaan yang tidak sedikit bukan! []fr

sumber gambar : http://static.squarespace.com/static/531234b0e4b08cb688159bb8/t/53176c34e4b035ad0334cf25/1394043965365/Indonesian+Map.jpg